Berencana ke Amsterdam dan Zaanse Schans? Ini Itinerary-nya!

Oktober 2017, kami akhirnya kesampean untuk mewujudkan keinginan kami sejak lama: Euro Trip! Beli tiket dari setahun lalu, terus secara rutin menyusun dan mengubah itinerary, sampai akhirnya ketemu yang pas dan sesuai dengan keinginan kami. Ada 5 negara yang kami kunjungi dalam Euro Trip selama 16 hari ini: Belanda, Belgia, Swiss, Prancis, dan Inggris. Atau 6 jika ditambah Luxembourg di mana kami numpang transit bus doang tengah malam hehe. Perjalanan ini saya tulis dalam beberapa post, dan akan dibagi per negara.

Post pertama adalah tentang perjalanan kami di Belanda. Oh iya, kami memutuskan untuk hanya ke Amsterdam dan kota-kota yang bisa dicapai dalam waktu kurang lebih satu jam dari situ, supaya tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan. Dari Jakarta, kami menggunakan penerbangan dari maskapai KLM yang bekerja sama dengan Garuda. Transit sebentar di Kuala Lumpur, lalu kemudian langsung menuju Amsterdam Schiphol International Airport. Total penerbangan kurang lebih sekitar 18 jam.

img_0132
Tulisan Iamsterdam di depan Schiphol.

Setiba di Schiphol, ada dua hal yang kami lakukan: 1) membeli SIM Card untuk paket data yang bisa aktif di Eropa+UK, 2) membeli tiket Amsterdam & Region ticket. Setelah itu, kami langsung menuju hotel untuk menyimpan koper, berganti baju, dan memulai petualangan.

Untuk paket data, kami memutuskan membeli dari provider Three dengan paket data 12GB dan bonus 3,000 SMS serta 3,000 call minutes yang bisa dipakai di hampir seluruh negara Eropa. Supaya tidak boros, kami membawa 1 HP yang baterainya cukup tahan lama untuk kami fungsikan sebagai personal hotspot sehingga juga tidak perlu membeli 2 SIM card untuk koneksi internet dari 2 device.

IMG_3674
SIM Card Three yang kami beli bisa aktif di semua negara yang kami kunjungi

Dengan Amsterdam & Region ticket, kami berhak atas unlimited travel di Amsterdam dan kota-kota di sekitarnya. Selain itu, bisa menggunakan moda transportasi dari semua perusahaan transportasi yang ada di Amsterdam (tidak hanya GVB, tetapi juga Connexxion, dsb.). Harganya tergantung durasi perjalanan yang ingin dibeli. Kami membeli pass untuk 3 hari dengan harga 33.5 Euro.

IMG_3675
Amsterdam & Region Travel Ticket

Hari pertama kami mulai dengan mengunjungi Haarlem menggunakan bus dari Amsterdam Centraal. Haarlem ini kota kecil yang berada dekat pantai Zandvoort Aan Zee (trivia: coba search di Youtube, ada lagu tentang pantai ini yang melodinya sama dengan lagu Tanjung Perak). Kotanya tenang dan terdapat pasar tumpah yang ternyata sangat lazim untuk ditemukan di Belanda.

IMG_0137
Suasana kota Haarlem yang tenang

Dari Haarlem, kami menuju Zaanse Schans (dibaca Zan-se Skans, bukan Zan-se Syans) untuk melihat seperti apa Old Holland. Belanda pada zaman dahulu. Zaanse Schans, yang dibelah oleh sungai Zaan, terkenal karena masih memiliki beberapa kincir angin kuno yang menjadi ciri khas Belanda. Rumah-rumah kunonya juga cantik sekali. Selain itu, ada banyak pabrik cokelat yang harumnya bikin pengen berhenti dan langsung nuang air panas. Di sini, kami melihat banyak rumah tua yang sangat cantik, kincir angin Belanda yang terkenal itu, serta melihat-lihat beberapa toko yang ada di kawasan itu. Uniknya, ternyata kincir angin tersebut, meskipun bentuknya mirip satu sama lain, pada zaman dahulu memiliki fungsi yang berbeda-beda, sehingga memiliki nama masing-masing. Di sini juga terdapat toko souvenir yang menjual sepatu kayu yang menjadi sepatu khas Belanda zaman dahulu.

img_0158
Entah kenapa, rumah kecil hijau ini menjadi salah satu ikon khas Zaanse Schans
img_0159
Di Zaanse Schans, banyak sekali rumah kecil yang sangat cantik seperti ini
IMG_0157
Berpose dengan kincir angin Belanda
IMG_0176
Di depan toko souvenir dengan sepatu kayunya yang khas
IMG_E0181
Sepatu kayu ini dijual lho. Bahkan dibuat dengan berbagai ukuran seperti sepatu biasa.

Selesai berkeliling di Zaanse Schans, kami kembali ke Amsterdam untuk melihat-lihat pusat kota. Tujuan pertama adalam Red Light District yang merupakan daerah prostitusi yang sudah dilegalkan sejak lama. Sudah lama saya penasaran dengan daerah ini. Yang menarik di sini adalah wanita tersebut seperti dipajang dalam etalase di pinggir-pinggir jalan dan orang yang tertarik dengan jasa mereka bisa langsung bernegosiasi. Namun, ternyata waktu kami ke sana, entah kenapa, hanya ada 1-2 perempuan yang ada di dalam etalase kaca tersebut. Entah karena kami datang ketika sudah tutup atau memang belum buka. Jangan dibayangkan juga kalau mereka bertelanjang bulat. Gak gitu. Oh iya, di daerah sini, juga banyak sekali kafe dan warung kecil yang menjual snack, kue, permen, dan sejenisnya yang terbuat dari ganja. Hal lumrah juga melihat orang melinting dan membakar ganja di tempat umum, karena memang ganja atau marijuana sejak lama dilegalkan di Belanda.

img_0217
Daerah Red Light Disctrict di kota Amsterdam yang terkenal dengan night life-nya

Hari kedua, kami memulai perjalanan dengan mengunjungi Volendam, desa nelayan di Barat Daya Amsterdam. Di sini ada dua hal yang terkenal: Pertama, berfoto dengan kostum tradisional Belanda. Beberapa penjaga toko foto di sana bahkan mengetahui beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Jika diperhatikan lebih detail, mereka bahkan banyak memajang foto dengan beberapa artis Indonesia di etalase kaca mereka. Harganya tergantung berapa orang yang ikut foto tersebut. Untuk 2 orang, harganya adalah 20 Euro, dan kami bisa memilih ingin dicetakkan fotonya dalam ukuran apa.

img_0246
Volendam, kota kecil favorit saya. Banyak makanan enak di sini! ūüôā

Selain berfoto dengan kostum tradisional Belanda, Volendam juga terkenal dengan seafood yang sangat segar. Kami sampai bingung ingin mencoba seafood yang mana karena semua terlihat sangat menggugah selera, hehe. Selain seafood, ada juga beberapa makanan khas Belanda lainnya seperti Poffertjes dan Waffle yang bisa dicoba di sini.

IMG_0251
Nyobain Poffertjes asli Belanda yang dikasih gula bubuk + liquor orange. Rasanya gokil!

Dari Volendam kami kembali ke Amsterdam untuk lanjut mengeksplorasi kota cantik ini. Kami ke Rijksmuseum, Van Gogh Museum, dan Museumplein yang letaknya berdekatan satu sama lain karena berada di satu kompleks yang sama. Di sini, banyak orang berfoto dengan tulisan IAMSTERDAM yang terkenal itu. Untung saja kami sudah berfoto dengan tulisan yang sama di depan airport Schiphol, karena di sini ramai sekali orang yang berfoto, ditambah lagi dengan beberapa atraksi jalanan yang terus menerus ada di situ, sehingga susah mendapatkan foto yang bagus dan tidak terlalu ramai. Kami tidak masuk ke museumnya karena harganya cukup mahal dan kurang tertarik, jadi kami hanya berjalan-jalan santai saja di Museumplein yang sangat cantik.

img_0345
Salah satu sudut di Museumplein. Banyak orang berbaring menikmati sinar matahari.
IMG_0325
Di depan Van Gogh Museum

Setelah itu kami mengunjungi Bloemnmarket, yang merupakan pasar bunga terkenal di Amsterdam. Tadinya kami pikir di sini penuh dengan bunga segar-segar. Ternyata perkiraan kami tidak terlalu tepat karena di sini lebih banyak orang yang menjual bibit tanaman dan bunga seperti tulip. Jika iklimnya cocok, ingin sekali kami membeli beberapa dan membawa pulang ke Indonesia untuk ditanam. Oh iya, di sini juga banyak toko souvenir murah, jadi jika teman-teman ingin membeli souvenir dari Amsterdam, kami sarankan untuk berbelanja di sini.

IMG_0262
Bibit bunga yang banyak dijual di Bloemnmarket
IMG_E0273
Tulip yang dijajakan di hampir semua toko di pasar ini
img_0266
Bunga tulip warna-warni yang memanjakan mata

Dari Bloemnmarket, kami melanjutkan perjalanan kami ke Vondelpark, sebuah taman hijau yang tidak jauh dari situ, sehingga kami hanya berjalan kaki. Di sini, penuh dengan pohon-pohon besar yang daunnya telah menguning keemasan dan gugur.

IMG_0485
Soundtrack: Payung Teduh – Resah :p

Di hari ketiga, kami mengunjungi Amsterdam ArenA, stadion dari Ajax Amsterdam yang tersohor itu. Stadionnya ternyata tidak terlalu bagus karena cukup kusam dan tidak ada pintu utama yang betul-betul besar. Kami hanya berfoto dan melihat-lihat ke official store-nya sebentar.

IMG_5833
Di depan Amsterdam ArenA
IMG_0388
Di depan official store Ajax

Setelahnya, kami menuju Albert Cuyp Market yang hanya buka Senin sampai Sabtu, untuk membeli beberapa oleh-oleh, berbelanja, dan mencicipi aneka makanan khas Belanda. Albert Cuyp Market ini seperti pasar tumpah di sebuah jalan yang dinamakan De Albert Straat. Kami menyusuri pasar ini dari ujung ke ujung supaya tidak melewatkan satu stall pun, hehehe. Beberapa makanan yang wajib dicoba: fish and chips, stroopwaffel, snack curah Belanda, Calamary, dan fries. Ini salah satu pasar yang hukumnya wajib untuk dikunjungi jika teman-teman ke Amsterdam karena makanannya bener-bener enak-enak!

IMG_0423
Tidak janggal melihat orang ke sana sini naik sepeda di Amsterdam
IMG_0288
Pemandangan kanal khas kota Amsterdam
IMG_0448
Salah satu stall di Albert Cuyp Market. Trust me, picture does not do justice to all these foods!

Dari Belanda, kami akan menuju ke Belgia menggunakan bus Flixbus. Perjalanan ditempuh kurang lebih hanya dalam 3 jam, seperti Jakarta ke Bandung. Perjalanan kami di Belgia yang penuh dengan kejutan dan makanan-makanan cantik dapat dilihat di post berikutnya.

IMG_0506
Bersiap melanjutkan perjalanan 3 jam dari Amsterdam ke Brussels

Thanks Amsterdam for having us!

Jika ingin melihat foto perjalanan kami, bisa mengikuti akun instagram saya di @ignasiusryan.

Advertisements

Cara Mudah Membuat Visa UK

Inggris punya banyak banget tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sayangnya, selama ini banyak juga orang yang mengurungkan niatnya ke Inggris ketika jalan-jalan ke Eropa karena masuk ke Inggris membutuhkan visa terpisah dari visa Schengen. Hal pertama yang terlintas di pikiran pasti tentang ribetnya mengurus visa UK/Inggris sebagai syarat masuk ke sana.

Tulisan ini gue buat untuk membantu teman-teman yang berencana atau sedang mempertimbangkan untuk pergi ke Inggris atau negara Inggris Raya lainnya (Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara). Membuat visa UK tidak sesulit itu, asalkan kita betul-betul paham syarat dan langkah-langkahnya.

Pertama, kita harus tau dulu, visa jenis apa yang ingin kita buat. Ini tergantung tujuan perjalanan teman-teman ke Inggris. Sebagian besar, mungkin untuk leisure (perjalanan liburan), sebagian lagi bisa jadi untuk bisnis atau studi. Di blog ini, gue akan coba fokus untuk membahas visa untuk perjalanan liburan, yaitu Visa Tourist (Standard Visitor Visa).

Setelah tau jenis visa apa yang ingin kita ajukan, langkah berikutnya adalah mengisi aplikasi online di website resmi pemerintah Inggris di sini. Teman-teman akan diminta membuat akun, atau log in jika sudah pernah membuat akun di laman tersebut. Setelah berhasil masuk, teman-teman tinggal mengikuti tahapan demi tahapannya hingga semua selesai diisi. Pastikan dokumen penting seperti Paspor sudah ada di tangan karena banyak informasi yang harus diisi sesuai paspor kita. Jawab semua pertanyaan dengan sebenar-benarnya.

Beres menjawab semua pertanyaan, kita akan diminta untuk membuat appointment untuk mengajukan aplikasi visa kita. Nah, di sini, Kedubes Inggris sudah menunjuk VFS sebagai agen yang menjadi perantara dalam mengumpulkan dokumen pengajuan visa kita. Perlu dicatat, bahwa VFS bukan pihak yang menentukan keputusan pengajuan visa kita, apakah diterima atau ditolak. VFS hanya berhak untuk mengumpulkan dan mengembalikan dokumen beserta visa jika pengajuan kita berhasil. VFS UK sendiri lokasinya ada di Mall Kuningan City lantai 2.

Untuk appointment ini, kita bisa memilih jadwal tersedia di hari kerja, mulai pukul 08.00 untuk hari Senin s.d. Kamis, dan mulai pukul 07.00 khusus untuk hari Jum’at. Gue selalu mengusahakan mengambil jadwal paling pagi ketika VFS masih sepi. Bukti appointment yang kita buat akan dikirimkan ke email, dan harus diprint untuk dibawa pada hari H.

Setelah memilih jadwal appointment, kita akan diminta melakukan pembayaran secara online. Untuk pengajuan Standard Visitor Visa, biayanya adalah 121 USD, sekitar Rp. 1.6 juta ketika tulisan ini dibuat; sedikit lebih mahal dibanding Visa Schengen. Karena pembayaran dilakukan secara online, maka bukti pembayarannya juga akan dikirim lewat email.

Langkah paling penting dalam pengajuan pembuatan visa adalah menyiapkan dokumen yang dibutuhkan. Beberapa dokumen sifatnya wajib, dan beberapa sisanya bersifat mendukung. Yang wajib antara lain:

  1. Paspor asli dengan masa berlaku lebih dari 6 bulan
  2. Print-out dari aplikasi online yang telah kita isi
  3. Bank statement untuk menerangkan bahwa kita memiliki dana cukup untuk melakukan perjalanan ke UK (atau rekening koran 3 bulan terakhir)
  4. Bukti appointment, dan
  5. Bukti bayar pengajuan visa.

Sedangkan, beberapa dokumen yang sifatnya mendukung antara lain:

  1. Surat keterangan dari perusahaan tempat kita bekerja
  2. Payslip 3 bulan terakhir
  3. Fotokopi KTP atau dokumen personal lain
  4. Surat domisili/dokumen yang menerangkan kalau kita menetap di Indonesia/negara asal.
  5. Ijazah
  6. Itinerary perjalanan
  7. Bukti booking tiket pesawat, akomodasi, dan transportasi selama berada di UK
  8. Copy visa UK sebelumnya (jika sudah pernah ke UK), serta
  9. Dokumen lain yang bisa memperkuat pengajuan aplikasi visa kita dan memberikan keyakinan kepada pembuat keputusan bahwa kita merupakan warga yang baik, tidak akan menjadi imigran gelap di UK (tidak kembali lagi ke Indonesia), mempunyai dana yang cukup untuk melakukan perjalanan tersebut (tidak luntang-lantung ketika sudah sampai UK), dan tidak akan berbuat sesuatu yang negatif selama kita berada di UK.

Semua dokumen ini wajib dibawa ketika datang ke VFS, dan akan diperiksa kelengkapannya oleh petugas yang bertugas menerima aplikasi visa kita. Setelah itu, kita akan diminta menunggu sekitar 5 menit untuk diambil data biometriknya (sidik jari dan foto diri) dengan petugas lainnya di ruangan terpisah.

Jika sudah selesai, maka kita dapat langsung pulang. Kurang lebih seluruh proses sejak dipanggil masuk hingga selesai sangatlah cepat: hanya 15 – 20 menit saja. Visa dapat diambil sekitar 15 hari kerja setelah pengajuan visa diterima oleh VFS. Untuk tau apakah visa kita sudah dapat diambil atau belum, biasanya VFS akan mengirimkan email dan SMS notifikasi mengenai hal tersebut.

Oh iya, bagi teman-teman yang butuh visanya keluar dalam waktu yang lebih cepat, juga dapat melakukan pengajuan visa dengan priority service (Priority Visa) di mana visa dapat diberikan dalam waktu kurang lebih hanya 3 hari kerja. Biayanya tentu lebih mahal, karena dikenakan tambahan lagi sekitar Rp. 3.3 juta.

Pengajuan visa UK ternyata tidak serepot dan sesulit itu kan? Teman-teman hanya perlu memastikan sudah melakukan semua langkah-langkahnya dengan baik dan menyiapkan dokumen selengkap-lengkapnya.

Kalau ada pertanyaan, bisa komen di bawah atau email langsung ke gue ya, pasti akan diusahakan untuk dibalas secepatnya. Good luck with your application, guys. You will definitely enjoy UK and the unforgettable experience will definitely worth all the hassles. 

 

 

Beasiswa Short Term Awards dari Australia Awards Indonesia

Kata Forrest Gump, “Life is like a box of chocolate. You never know what you’re gonna get.” Hidup memang penuh kejutan. Awal tahun ini, tidak pernah terlintas barang sedikit pun oleh saya bahwa tiga bulan kemudian saya akan mendapatkan beasiswa untuk belajar di Australia selama dua minggu.

Beberapa minggu memasuki 2017, saya mendapatkan informasi dari salah seorang teman tentang adanya sebuah beasiswa mengikuti short course dari Australia Awards. Nama resminya adalah Short Term Awards (selanjutnya saya sebut STA atau short course). Sebelumnya, saya hanya tahu kalau Australia Awards Indonesia (selanjutnya saya sebut AAI) memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi Master atau Doktoral. Ternyata, AAI juga memberikan kesempatan belajar yang lebih singkat melalui STA ini. Gratis, tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Semua ditanggung! Tiket pesawat dari kota asal, akomodasi bintang lima, uang saku selama aktivitas di Indonesia maupun Australia, asuransi perjalanan dan kesehatan, dan masih banyak lagi.

Dalam setahun, terdapat banyak sekali STA yang diadakan dengan topik yang berbeda-beda pula. AAI mengadakan STA dengan topik sesuai prioritas mereka di tahun tersebut. Beberapa topik STA yang telah diadakan seperti tentang gender equality, ketahanan pangan, pemberantasan korupsi, transformational leadership, fashion design, pengembangan wisata, malaria, dan masih banyak lagi. Yang saya ikuti adalah short course mengenai perusahaan rintisan berbasis teknologi atau start-up, sesuai dengan pengalaman yang saya miliki.

Bagaimana proses pendaftarannya? Saya bisa bilang kalau proses seleksi AAI untuk short course ini adalah salah satu yang paling simpel dan tidak merepotkan. Waktu itu, saya hanya diminta untuk mengisi form aplikasi online di situs AAI. Standar saja: informasi mengenai latar belakang dan pengalaman kita serta ada beberapa pertanyaan (lima kalau saya gak salah) mengenai pengalaman kita spesifik tentang topik STA yang ingin diikuti untuk melihat kecocokan latar belakang dan potensi kita sebagai calon awardee untuk STA tersebut. Hanya itu saja. Tidak ada tahap wawancara atau FGD untuk tahap berikutnya. Selanjutnya, kita tinggal menunggu keputusan apakah aplikasi kita sukses atau tidak.

Beberapa minggu setelah saya mengirim aplikasi saya, saya mendapatkan email yang menyebutkan bahwa saya diterima untuk mengikuti short course dari AAI selama 2 minggu ini. Wah, bahagianya setengah mati, hehehe.

Sebelum keberangkatan, pihak AAI mengadakan pre-course workshop untuk memberikan pemahaman mengenai ekspektasi program STA yang diikuti serta gambaran aktivitas yang akan dilakukan di Australia. Kami berangkat ke Bali untuk pembekalan selama 3 hari dan diinapkan di hotel bintang lima di daerah Seminyak. Semua disiapkan dengan baik, dan kami sebagai awardee betul-betul diperlakukan istimewa dari hari pertama kami dinyatakan terpilih mengikuti STA ini.

Dalam pre-course ini, kami juga diberikan penjelasan mengenai Award Project yang harus kami kerjakan sebagai proyek individu dari mengikuti short course tersebut. Kami diberikan kebebasan untuk memilih sendiri topik Award Project yang akan kami kerjakan sehingga dampaknya bisa dirasakan langsung kembali oleh kami.

Panitia AAI juga menyebutkan bahwa selama di Australia, saya bersama dengan teman-teman awardee lain yang total berjumlah 26 orang, akan mengikuti program yang sudah disiapkan oleh universitas partner dalam short course tersebut, yakni Queensland University of Technology di Brisbane seperti mengunjungi start-up, perwakilan pemerintah, dan co-working space, serta mengikuti networking event dengan pengusaha Australia-Indonesia, menyaksikan festival start-up, dan banyak aktivitas menarik lainnya. Ada 3 kota yang kami kunjungi selama kami di Australia: Sydney, Adelaide, dan Brisbane.

Sepulang dari short course selama 2 minggu di Australia, kami diberi waktu sekitar 6 minggu untuk menyelesaikan Award Project kami, untuk kemudian berkumpul kembali dalam post-course workshop dan mempresentasikan proyek yang kami kerjakan sebelum dapat dinyatakan lulus dan secara resmi menjadi alumni dari Australia Awards Indonesia dan menjadi bagian Australia Global Alumni di seluruh dunia.

Menariknya, walaupun kami terpilih menjadi awardee AAI untuk program short course yang relatif pendek, ketika dinyatakan lulus dari STA ini, kami juga mendapatkan benefit yang sama dengan awardee AAI untuk Long Term Awards (beasiswa Master atau Doktoral ke Australia), seperti undangan untuk mengikuti acara Kedutaan, akses gratis ke jurnal internasional. dan yang paling penting, eligibility untuk mengikuti Alumni Grant Scheme, sebuah skema pendanaan yang dirancang untuk membantu alumni AAI dalam mewujudkan idenya menjadi sesuatu yang lebih nyata dengan total pendanaan mencapai AUD 15,000. Informasi lengkap bisa dilihat di sini.

Pengalaman yang didapatkan dengan mengikuti program short course ini betul-betul berharga karena akan terus membuka kesempatan-kesempatan baru. Thank you, Australia Awards!

Untuk teman-teman yang tertarik mengikuti Short Term Awards berikutnya untuk topik-topik berikutnya, bisa sering-sering mengecek situs Australia Awards Indonesia. (http://www.australiaawardsindonesia.org/).

DSC_0874
Mengunjungi Blue Chilli, co-working space dan start-up incubator di Australia
DSC_0887
Sharing session dengan Atlassian, satu-satunya unicorn dari Australia
DSC_0020
Diterima oleh State Minister, Kyam Maher, untuk mempelajari bagaimana pemerintah Australia mendukung start-up di sana
DSC_0953
Salah satu sesi untuk melatih kemampuan pitching
DSC_0294
Kunjungan ke co-working space di Adelaide
DSC_0787
Dr. Ralf Muhlberger, salah satu course leader untuk STA kami
DSC_0454
Di depan The University of Adelaide (kampusnya Raditya Dika ya?)
DSC_0605
Main ke wildlife park di Adelaide dan akhirnya berhasil foto sama kangguru dan koala

Review Buku: Payoff oleh Dan Ariely

Begitu tau kalo Dan Ariely ternyata abis meluncurkan buku baru, gue langsung mencari buku tersebut di Kindle. Untungnya, bukunya memang beneran udah ada di Kindle Store, dan tanpa pikir panjang, langsung gue beli deh. Kalo gak salah, harganya sekitar 10 USD. Lumayan dibanding nungguin bukunya masuk ke Kinokuniya atau Periplus sini.

Buku terbaru Dan ini berjudul Payoff: The Hidden Logic That Shapes Our Motivation. Pendeknya, lewat buku ini dia mau cerita tentang faktor apa sih yang sebetulnya membuat orang merasa termotivasi, atau sebaliknya, terdemotivasi.

payoff-9781501120046_hr

Dan Ariely bilang kalau sebetulnya semua orang – siapapun dia, kapan pun, dan di mana pun, selalu berusaha memotivasi dirinya sendiri. Mulai dari memotivasi diri untuk bangun pagi supaya gak telat ke kantor, memotivasi diri supaya kerja dengan baik supaya bisa dipromosi, memotivasi diri untuk mau membantu orang lain, dan masih banyak lagi.

Lalu, sebenernya faktor apa sih yang membuat orang mau melakukan sesuatu? Menurut Dan, orang melakukan sebuah kegiatan karena termotivasi untuk mendapatkan sense of meaning Рperasaan kalau apa yang kita lakukan itu ada artinya dan berguna, bahkan ketika kadang apa yang kita lakukan itu bikin capek atau bahkan merugikan kita.

Alhasil, Dan juga menyimpulkan bahwa dengan mengetahui fakta di atas, sangatlah mudah untuk seseorang mendemotivasi orang lain: hilangkan saja sense of meaning yang bisa dia peroleh dari melakukan aktivitas tertentu itu.

Dan cerita soal salah satu risetnya (yang merupakan salah satu favorit gue) di mana dia mengukur sejauh apa orang mau melakukan suatu aktivitas kalau sense of meaning dari aktivitas tersebut dihilangkan: ada 2 grup yang diminta membuat bangunan dari Lego. Setiap bangunan yang diselesaikan, mereka akan mendapatkan uang, misal Rp. 1 juta. Setelah mereka menyelesaikan 1 bangunan, mereka akan diminta membuat bangunan lain, namun kali ini mereka hanya dibayar lebih sedikit, misal Rp. 800,000, dan begitu pula seterusnya hingga fee untuk setiap bangunan Lego yang mereka selesaikan nilainya hampir sama dengan nol. Kedua grup ini diberikan perlakuan berbeda di mana bangunan yang diselesaikan grup pertama dipajang di atas meja, sedangkan bangunan yang diselesaikan grup kedua langsung dirobohkan sesaat setelah mereka menyelesaikan bangunan tersebut.

Bisa tebak apa hasilnya? Ternyata, grup pertama bisa membuat bangunan lengkap yang lebih banyak dibanding grup kedua. Dengan insentif yang sama, grup kedua ternyata hanya bertahan membuat bangunan Lego dengan jumlah yang lebih sedikit dari grup pertama. Dan menyebutkan, hal ini terjadi karena sense of meaning dari grup kedua dihilangkan karena apa yang telah mereka kerjakan susah-susah dalam membangun bangunan Lego tersebut, langsung dihancurkan setelahnya.

***

Intermezzo: Di salah satu bagian buku ini, Dan Ariely juga memberikan tip tentang apa yang harus dilakukan ketika sedang merasa demot. Kita dapat dengan mudah bertanya kepada diri kita sendiri: “How is the work I’m doing helping someone down the road? What meaning can I find here?”.

***

Di bagian kedua, ada cerita menarik soal perkembangan bisnis bahan kue. Tahun 1940-an, ketika wanita hampir selalu jadi ibu rumah tangga, ada satu perusahaan bernama Duff, yang memperkenalkan produk terobosannya: just-add-the-water cake mix (bahan kue yang hanya cukup ditambahkan air). Mereka berhipotesis kalau dengan adanya produk ini, ibu rumah tangga jadi sangat terbantu, dan akhirnya permintaan akan tinggi sehingga bisnis dapat berkembang dengan baik.

Lucunya, ternyata hal itu¬†tidak jadi kenyataan. Setelah ditelisik, ternyata bukan karena rasaya, tetapi dari “mudahnya” membuat kue jika hanya menambahkan air. Produk ini tidak laku karena menurut Dan Ariely, tidak memberikan sense of meaning kepada ibu-ibu ini dalam konteks mereka sebagai ibu rumah tangga.

Duff mencoba menjawab permasalahan ini dengan menghilangkan telur dan tepung dari bahan kue yang Ia pasarkan. Ternyata kali ini, produknya laku keras. Dan berhipotesis meskipun ibu-ibu hanya menambahkan telur, air, dan tepung, mereka tetap merasa mereka yang membuat kue tersebut, dan ada sense of meaning yang terbangun dari proses dia membuat sebuah kue untuk keluarga.

Hal yang sama juga terjadi pada IKEA di mana produk yang dibeli memberikan sense of meaning karena pembeli merasa furniture barunya merupakan 100% hasil karya mereka, yang mana sering disebut sebagai IKEA effect.

Udah deh segitu dulu. Kalo dilanjutin bakalan panjang banget, karena bagi gue pribadi, setiap cerita dan riset yang dibuat oleh Dan itu sumpah, menarik-menarik banget. Kalo lo juga jadi penasaran dengan cerita-cerita lainnya, buruan deh baca buku ini.

Sewa Kapal di Labuan Bajo? Pak Mak Jawabannya!

Gue dan tiga temen trip gue punya banyak opsi ketika memutuskan untuk traveling ke Labuan Bajo: ikut open trip, private trip yang di-arrange oleh agen, atau private trip yang semuanya kita urus sendiri. Mempertimbangkan plus dan minusnya, akhirnya kita putuskan untuk pilih opsi terakhir: bikin private trip yang A sampai Z-nya diurus sendiri, termasuk mencari kapal untuk Live On Board (LOB) di Laut Flores selama beberapa hari. Kita berempat cukup yakin kalo berhasil menemukan kapal yang pas harga dan pelayanannya, trip kali ini bakalan sukses.

Pencarian dimulai dengan melakukan riset sederhana: tanya-tanya temen yang pernah ke Labuan Bajo, google penyewaan kapan di Labuan Bajo, dan blogwalking ke sana-sini dengan berbagai keyword. Setelah membandingkan harga dan segala macem fasilitas yang ada di kapal, akhirnya kita perlu membuat satu keputusan penting: apakah mau pakai kapal yang AC atau non-AC? Kebayang kan panasnya Flores dan lengketnya udara malam di laut? Yang AC jelas lebih nyaman, tapi tentu harganya akan lebih mahal dibanding kapal yang non-AC.

Riset kita lanjutkan dan akhirnya kita dapat informasi kalau semua kapal yang memakai AC pasti menggunakan genset untuk sumber listriknya. Artinya, pas malam hari, pasti suaranya berisik banget. Dan ternyata, bahkan untuk yang non-AC pun ada kapal yang juga menggunakan genset untuk menghidupkan listrik di malam hari yang cuma untuk penerangan dan daya kecil buat ngecharge HP, kamera, dan semacamnya.

Riset dilanjutkan dan kita ketemu beberapa kapal yang sumber listriknya dari solar panel. Jadi selama siang hari, si solar panel ini akan menyerap panas matahari buat dikonversi jadi listrik yang ditampung di baterai khusus gitu. Dan, yak, betul, karena kapal-kapal ini menggunakan solar panel, malam hari kita bakalan terbebas dari suara berisik yang super ganggu, hehe.

Dari blog ini, kita mendapatkan kontak salah satu pemilik kapal di Labuan Bajo. Namanya Makdura Ulumando, biasa dipanggil Pak Mak. Orangnya masih muda banget, gaul, dan ramah abis. Dia mulai membawa tamu sejak 2003, jadi kurang lebih udah lebih dari 12 tahun.

Pak Mak punya 3 kapal, semua non-AC; yang membedakan hanya kapasitas maksimal yang bisa ditampung oleh 1 kapal. Karena kemarin gue traveling berempat ke Labuan Bajo, jadi bisa pake kapal yang paling kecil. Harganya 9 juta aja net untuk 4 hari 3 malem (4D3N). Ini udah termasuk makan lho ya selama LOB, tetapi belum termasuk tiket masuk ke Taman Nasional Komodo (Rp. 60,000 per orang per hari) dan sewa kapal kecil untuk ke Pink Beach karena pantainya cukup dangkal dan kapal Pak Mak gak bisa merapat (Rp. 20,000 per orang bolak balik). Kita putuskan untuk menyewa kapalnya dan langsung menghubungi dia untuk booking dan transfer DP 20% dari harga sewa kapal, kurang lebih sekitar 3 bulan sebelum perjalanan.

IMG_5583
Penampakan kapal Pak Mak yang kita sewa untuk LOB

Gue akan bahas satu per satu fasilitas yang ada di kapal Pak Mak.

Kamar Tidur

Di kapal yang gue pake kemaren, total ada 3 kamar di atas kapal ini. Ada 2 kamar yang ranjangnya bunk bed buat 4 orang per kamar dan 1 kamar yang cuma bisa muat 2 orang. Jadi total kapasitas maksimal dari kapal ini ada 10 orang. Idealnya sih buat 5-6 orang karena kasurnya lumayan pas-pasan kalo untuk dishare 2 orang.

Ukuran kamarnya lumayan kecil, jadi kalo bawa banyak koper, bakalan terbatas banget ruang gerak kita. Di masing-masing kamar ada kipas angin dinding dan lampu kecil untuk penerangan. Gak perlu khawatir bakalan susah ngecharge HP atau kamera karena masing-masing kamar dilengkapi 4 lubang colokan.

Pak Mak dan kru kapalnya juga berusaha sebaik mungkin untuk menyiapkan kamar kita sebersih dan serapi mungkin ketika kita pertama kali naik ke kapal. Mereka menyediakan handuk bersih yang bisa kita pakai untuk mandi atau bilas setelah snorkeling. Di ranjang juga disediakan selimut barangkali kita kedinginan ketika malam.

Kalo ditanya panas atau gak di dalem kamar, jawabannya tergantung. Pas siang emang berasa panas dan pengap banget di dalam kamar, tetapi ketika udah malem dengan kondisi kipas hidup, badan seger abis mandi ditambah capek setelah seharian snorkeling dan trekking, sampe kasur biasanya kita langsung tidur pulas, hehe.

Berikut penampakan kamar tidur di kapal yang kita sewa:

 

Kamar Mandi

Di kapal Pak Mak ini, ada 2 kamar mandi: satu khusus untuk mandi dan satu lagi sebetulnya untuk toilet tetapi juga bisa digunakan sebagai kamar mandi cadangan. Jangan salah, kamar mandi di kapal Pak Mak ini juga pakai shower dan jetpump lho. Kekurangannya cuma satu: airnya gak begitu deras jadi lumayan geregetan ketika mandi. Bisa jadi mengingat air bersih yang dibawa memang terbatas jadi harus hemat-hemat ketika mandi.

Untuk kloset, Pak Mak juga menggunakan kloset duduk, jadi lumayan keren untuk kapal kayu sederhana buat LOB.

Pendeknya, kamar mandi dan toiletnya cukup bersih.

 

Dapur dan Ruang Makan

Salah satu fasilitas yang paling gue suka dari kapal Pak Mak adalah ruang makannya. Kebetulan di kapal yang kita sewa, ruang makannya ada di bagian depan kapal, persis di depan ruang kemudi. Jadi, sambil ngobrol-ngobrol sama temen, bisa sambil nanya ini itu dan ngobrol sama Pak Mak-nya langsung.

Waktu kita pertama kali naik ke kapal, di atas meja makan udah lengkap berbagai macam snack dan minuman kayak teh, kopi, atau susu. Pak Mak juga udah menyiapkan cooler box sederhana untuk naro air mineral dan termos air panas untuk nyeduh popmie dan bikin kopi atau teh.

Kita gak ke dapur sama sekali, cuma lewat-lewat doang, karena semua makanan udah disiapkan oleh 2 orang kru kapal Pak Mak, namanya Bang Yohanes dan Bang Said. Kita sampe terharu banget setiap kali makanan dateng, karena untuk makan di atas kapal LOB sesederhana itu, bisa dibilang makanan dan snack yang disajikan berkualitas bintang lima dari usaha mereka menyajikan dan rasanya. Bayangin aja, setiap kali makan, kurang lebih 5-6 macam lauk dan sayur selalu ada di atas meja. Dan semuanya dimasak fresh di atas kapal, pakai bahan-bahan yang segar, bukan frozen food. Belum lagi ditambah buah-buahan buat pencuci mulut. Di rumah aja gak selengkap itu, haha!

DSC02270
Makan siang kami di ruang makan dengan pemandangan cantik khas Labuan Bajo

Dek Kapal

Di kapal ini, juga ada tangga menuju ke atas dek kapal. Dari atas dek kapal ini, kita bisa duduk santai-santai pas pagi hari. Kita kadang-kadang juga pake dek kapal ini buat ngejemur baju, hehe. Nah, di atas dek kapal ini Pak Mak akan tidur ketika kapal udah berhenti dan kita harus bermalam.

IMG_5503
Menikmati sunrise Labuan Bajo dari atas dek kapal

***

Nah, selain fasilitas-fasilitas kapal yang oke banget untuk ukuran LOB di kapal kayu, Pak Mak juga banyak banget membantu trip kita jadi lebih menyenangkan. Dia punya kamera SLR dan jago ngambil angle yang oke punya, jadi gak usah takut bakal kekurangan dokumentasi buat diupload ke social media. :p Pak Mak juga tau kapan jam-jam ramai di tempat-tempat tertentu dan dia selalu mengusahakan agar kita bisa ke tempat itu sebelum atau sesudah jam ramai supaya bisa puas menikmati

Yang lebih kerennya lagi, karena Pak Mak udah berpengalaman banget mengarungi Laut Flores, dia mengajak kita ke beberapa tempat yang belum pernah dieksplor oleh siapapun. Tempat ini juga dia yang menemukan sendiri hasil iseng-iseng dia ketika mengantar tamu. Bisa dikroscek di google atau Instagram kalau belum ada yang pernah foto di tempat ini. Beberapa tempat ini pun akhirnya dia yang kasih nama, dan pada akhirnya kapal-kapal lain mengikuti kapal Pak Mak untuk ke tempat-tempat yang baru aja dia temukan.

Walhasil, kalo menyewa kapal Pak Mak, gak akan ada itinerary yang sifatnya pasti seperti kalo kita traveling dengan menggunakan travel agent atau ikut open trip. Kita bisa request kalau mau skip tempat tertentu atau mau mengunjungi tempat baru dan Pak Mak bakal nyesuain perjalanan dengan request kita itu. Kita sendiri akhirnya setuju untuk mengikuti itinerary yang diatur oleh Pak Mak karena kita yakin dia yang paling ngerti harus bawa tamu ke mana dan kapan waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat itu.

Di trip ini, Pak Mak juga menyiapkan kejutan kecil buat kita semua. Dia memberikan kain asli dari Flores sebagai kenang-kenangan karena udah memercayakan trip ke Labuan Bajo kali ini dengan menggunakan jasa dan kapal milik dia. Kita¬†berempat puas banget dengan pelayanan tulus dan fasilitas yang ada di kapal Pak Mak yang seperti gak pernah capek ngurusin kita ke sini situ dan terus-terusan minta difotoin haha. Kalo mesti ngasih nilai, gue pribadi ngasih nilai 10 dari 10! ūüôā

Gue betul-betul menyarankan kalian yang mau traveling ke Labuan Bajo untuk menggunakan jasa dan menyewa kapal Pak Mak karena gue yakin kalian juga akan puas dengan pelayanan dia dan timnya. Yang mau menghubungi Pak Mak, dia bisa dikontak di 0821-4570-4054 lewat telepon ataupun WA. Sabar-sabar aja ya kalo misalkan dia ditelepon gak angkat atau misalkan hapenya gak aktif karena bisa jadi dia lagi berlayar dan memang gak ada sinyal.

IMG_1947
Pak Mak, si Pemilik Kapal

Foto-foto keren dari perjalanan Pak Mak mengajak tamu berkeliling di Laut Flores juga bisa diliat di akun Instagramnya: @komodoalor.

Buat yang mau tau itinerary detail dan review tempat yang kita kunjungi dari perjalanan kita berempat, tungguin post berikutnya ya.

Cheers!