Beasiswa Short Term Awards dari Australia Awards Indonesia

Kata Forrest Gump, “Life is like a box of chocolate. You never know what you’re gonna get.” Hidup memang penuh kejutan. Awal tahun ini, tidak pernah terlintas barang sedikit pun oleh saya bahwa tiga bulan kemudian saya akan mendapatkan beasiswa untuk belajar di Australia selama dua minggu.

Beberapa minggu memasuki 2017, saya mendapatkan informasi dari salah seorang teman tentang adanya sebuah beasiswa mengikuti short course dari Australia Awards. Nama resminya adalah Short Term Awards (selanjutnya saya sebut STA atau short course). Sebelumnya, saya hanya tahu kalau Australia Awards Indonesia (selanjutnya saya sebut AAI) memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi Master atau Doktoral. Ternyata, AAI juga memberikan kesempatan belajar yang lebih singkat melalui STA ini. Gratis, tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Semua ditanggung! Tiket pesawat dari kota asal, akomodasi bintang lima, uang saku selama aktivitas di Indonesia maupun Australia, asuransi perjalanan dan kesehatan, dan masih banyak lagi.

Dalam setahun, terdapat banyak sekali STA yang diadakan dengan topik yang berbeda-beda pula. AAI mengadakan STA dengan topik sesuai prioritas mereka di tahun tersebut. Beberapa topik STA yang telah diadakan seperti tentang gender equality, ketahanan pangan, pemberantasan korupsi, transformational leadership, fashion design, pengembangan wisata, malaria, dan masih banyak lagi. Yang saya ikuti adalah short course mengenai perusahaan rintisan berbasis teknologi atau start-up, sesuai dengan pengalaman yang saya miliki.

Bagaimana proses pendaftarannya? Saya bisa bilang kalau proses seleksi AAI untuk short course ini adalah salah satu yang paling simpel dan tidak merepotkan. Waktu itu, saya hanya diminta untuk mengisi form aplikasi online di situs AAI. Standar saja: informasi mengenai latar belakang dan pengalaman kita serta ada beberapa pertanyaan (lima kalau saya gak salah) mengenai pengalaman kita spesifik tentang topik STA yang ingin diikuti untuk melihat kecocokan latar belakang dan potensi kita sebagai calon awardee untuk STA tersebut. Hanya itu saja. Tidak ada tahap wawancara atau FGD untuk tahap berikutnya. Selanjutnya, kita tinggal menunggu keputusan apakah aplikasi kita sukses atau tidak.

Beberapa minggu setelah saya mengirim aplikasi saya, saya mendapatkan email yang menyebutkan bahwa saya diterima untuk mengikuti short course dari AAI selama 2 minggu ini. Wah, bahagianya setengah mati, hehehe.

Sebelum keberangkatan, pihak AAI mengadakan pre-course workshop untuk memberikan pemahaman mengenai ekspektasi program STA yang diikuti serta gambaran aktivitas yang akan dilakukan di Australia. Kami berangkat ke Bali untuk pembekalan selama 3 hari dan diinapkan di hotel bintang lima di daerah Seminyak. Semua disiapkan dengan baik, dan kami sebagai awardee betul-betul diperlakukan istimewa dari hari pertama kami dinyatakan terpilih mengikuti STA ini.

Dalam pre-course ini, kami juga diberikan penjelasan mengenai Award Project yang harus kami kerjakan sebagai proyek individu dari mengikuti short course tersebut. Kami diberikan kebebasan untuk memilih sendiri topik Award Project yang akan kami kerjakan sehingga dampaknya bisa dirasakan langsung kembali oleh kami.

Panitia AAI juga menyebutkan bahwa selama di Australia, saya bersama dengan teman-teman awardee lain yang total berjumlah 26 orang, akan mengikuti program yang sudah disiapkan oleh universitas partner dalam short course tersebut, yakni Queensland University of Technology di Brisbane seperti mengunjungi start-up, perwakilan pemerintah, dan co-working space, serta mengikuti networking event dengan pengusaha Australia-Indonesia, menyaksikan festival start-up, dan banyak aktivitas menarik lainnya. Ada 3 kota yang kami kunjungi selama kami di Australia: Sydney, Adelaide, dan Brisbane.

Sepulang dari short course selama 2 minggu di Australia, kami diberi waktu sekitar 6 minggu untuk menyelesaikan Award Project kami, untuk kemudian berkumpul kembali dalam post-course workshop dan mempresentasikan proyek yang kami kerjakan sebelum dapat dinyatakan lulus dan secara resmi menjadi alumni dari Australia Awards Indonesia dan menjadi bagian Australia Global Alumni di seluruh dunia.

Menariknya, walaupun kami terpilih menjadi awardee AAI untuk program short course yang relatif pendek, ketika dinyatakan lulus dari STA ini, kami juga mendapatkan benefit yang sama dengan awardee AAI untuk Long Term Awards (beasiswa Master atau Doktoral ke Australia), seperti undangan untuk mengikuti acara Kedutaan, akses gratis ke jurnal internasional. dan yang paling penting, eligibility untuk mengikuti Alumni Grant Scheme, sebuah skema pendanaan yang dirancang untuk membantu alumni AAI dalam mewujudkan idenya menjadi sesuatu yang lebih nyata dengan total pendanaan mencapai AUD 15,000. Informasi lengkap bisa dilihat di sini.

Pengalaman yang didapatkan dengan mengikuti program short course ini betul-betul berharga karena akan terus membuka kesempatan-kesempatan baru. Thank you, Australia Awards!

Untuk teman-teman yang tertarik mengikuti Short Term Awards berikutnya untuk topik-topik berikutnya, bisa sering-sering mengecek situs Australia Awards Indonesia. (http://www.australiaawardsindonesia.org/).

DSC_0874
Mengunjungi Blue Chilli, co-working space dan start-up incubator di Australia
DSC_0887
Sharing session dengan Atlassian, satu-satunya unicorn dari Australia
DSC_0020
Diterima oleh State Minister, Kyam Maher, untuk mempelajari bagaimana pemerintah Australia mendukung start-up di sana
DSC_0953
Salah satu sesi untuk melatih kemampuan pitching
DSC_0294
Kunjungan ke co-working space di Adelaide
DSC_0787
Dr. Ralf Muhlberger, salah satu course leader untuk STA kami
DSC_0454
Di depan The University of Adelaide (kampusnya Raditya Dika ya?)
DSC_0605
Main ke wildlife park di Adelaide dan akhirnya berhasil foto sama kangguru dan koala

Review Buku: Payoff oleh Dan Ariely

Begitu tau kalo Dan Ariely ternyata abis meluncurkan buku baru, gue langsung mencari buku tersebut di Kindle. Untungnya, bukunya memang beneran udah ada di Kindle Store, dan tanpa pikir panjang, langsung gue beli deh. Kalo gak salah, harganya sekitar 10 USD. Lumayan dibanding nungguin bukunya masuk ke Kinokuniya atau Periplus sini.

Buku terbaru Dan ini berjudul Payoff: The Hidden Logic That Shapes Our Motivation. Pendeknya, lewat buku ini dia mau cerita tentang faktor apa sih yang sebetulnya membuat orang merasa termotivasi, atau sebaliknya, terdemotivasi.

payoff-9781501120046_hr

Dan Ariely bilang kalau sebetulnya semua orang – siapapun dia, kapan pun, dan di mana pun, selalu berusaha memotivasi dirinya sendiri. Mulai dari memotivasi diri untuk bangun pagi supaya gak telat ke kantor, memotivasi diri supaya kerja dengan baik supaya bisa dipromosi, memotivasi diri untuk mau membantu orang lain, dan masih banyak lagi.

Lalu, sebenernya faktor apa sih yang membuat orang mau melakukan sesuatu? Menurut Dan, orang melakukan sebuah kegiatan karena termotivasi untuk mendapatkan sense of meaning – perasaan kalau apa yang kita lakukan itu ada artinya dan berguna, bahkan ketika kadang apa yang kita lakukan itu bikin capek atau bahkan merugikan kita.

Alhasil, Dan juga menyimpulkan bahwa dengan mengetahui fakta di atas, sangatlah mudah untuk seseorang mendemotivasi orang lain: hilangkan saja sense of meaning yang bisa dia peroleh dari melakukan aktivitas tertentu itu.

Dan cerita soal salah satu risetnya (yang merupakan salah satu favorit gue) di mana dia mengukur sejauh apa orang mau melakukan suatu aktivitas kalau sense of meaning dari aktivitas tersebut dihilangkan: ada 2 grup yang diminta membuat bangunan dari Lego. Setiap bangunan yang diselesaikan, mereka akan mendapatkan uang, misal Rp. 1 juta. Setelah mereka menyelesaikan 1 bangunan, mereka akan diminta membuat bangunan lain, namun kali ini mereka hanya dibayar lebih sedikit, misal Rp. 800,000, dan begitu pula seterusnya hingga fee untuk setiap bangunan Lego yang mereka selesaikan nilainya hampir sama dengan nol. Kedua grup ini diberikan perlakuan berbeda di mana bangunan yang diselesaikan grup pertama dipajang di atas meja, sedangkan bangunan yang diselesaikan grup kedua langsung dirobohkan sesaat setelah mereka menyelesaikan bangunan tersebut.

Bisa tebak apa hasilnya? Ternyata, grup pertama bisa membuat bangunan lengkap yang lebih banyak dibanding grup kedua. Dengan insentif yang sama, grup kedua ternyata hanya bertahan membuat bangunan Lego dengan jumlah yang lebih sedikit dari grup pertama. Dan menyebutkan, hal ini terjadi karena sense of meaning dari grup kedua dihilangkan karena apa yang telah mereka kerjakan susah-susah dalam membangun bangunan Lego tersebut, langsung dihancurkan setelahnya.

***

Intermezzo: Di salah satu bagian buku ini, Dan Ariely juga memberikan tip tentang apa yang harus dilakukan ketika sedang merasa demot. Kita dapat dengan mudah bertanya kepada diri kita sendiri: “How is the work I’m doing helping someone down the road? What meaning can I find here?”.

***

Di bagian kedua, ada cerita menarik soal perkembangan bisnis bahan kue. Tahun 1940-an, ketika wanita hampir selalu jadi ibu rumah tangga, ada satu perusahaan bernama Duff, yang memperkenalkan produk terobosannya: just-add-the-water cake mix (bahan kue yang hanya cukup ditambahkan air). Mereka berhipotesis kalau dengan adanya produk ini, ibu rumah tangga jadi sangat terbantu, dan akhirnya permintaan akan tinggi sehingga bisnis dapat berkembang dengan baik.

Lucunya, ternyata hal itu tidak jadi kenyataan. Setelah ditelisik, ternyata bukan karena rasaya, tetapi dari “mudahnya” membuat kue jika hanya menambahkan air. Produk ini tidak laku karena menurut Dan Ariely, tidak memberikan sense of meaning kepada ibu-ibu ini dalam konteks mereka sebagai ibu rumah tangga.

Duff mencoba menjawab permasalahan ini dengan menghilangkan telur dan tepung dari bahan kue yang Ia pasarkan. Ternyata kali ini, produknya laku keras. Dan berhipotesis meskipun ibu-ibu hanya menambahkan telur, air, dan tepung, mereka tetap merasa mereka yang membuat kue tersebut, dan ada sense of meaning yang terbangun dari proses dia membuat sebuah kue untuk keluarga.

Hal yang sama juga terjadi pada IKEA di mana produk yang dibeli memberikan sense of meaning karena pembeli merasa furniture barunya merupakan 100% hasil karya mereka, yang mana sering disebut sebagai IKEA effect.

Udah deh segitu dulu. Kalo dilanjutin bakalan panjang banget, karena bagi gue pribadi, setiap cerita dan riset yang dibuat oleh Dan itu sumpah, menarik-menarik banget. Kalo lo juga jadi penasaran dengan cerita-cerita lainnya, buruan deh baca buku ini.

Sewa Kapal di Labuan Bajo? Pak Mak Jawabannya!

Gue dan tiga temen trip gue punya banyak opsi ketika memutuskan untuk traveling ke Labuan Bajo: ikut open trip, private trip yang di-arrange oleh agen, atau private trip yang semuanya kita urus sendiri. Mempertimbangkan plus dan minusnya, akhirnya kita putuskan untuk pilih opsi terakhir: bikin private trip yang A sampai Z-nya diurus sendiri, termasuk mencari kapal untuk Live On Board (LOB) di Laut Flores selama beberapa hari. Kita berempat cukup yakin kalo berhasil menemukan kapal yang pas harga dan pelayanannya, trip kali ini bakalan sukses.

Pencarian dimulai dengan melakukan riset sederhana: tanya-tanya temen yang pernah ke Labuan Bajo, google penyewaan kapan di Labuan Bajo, dan blogwalking ke sana-sini dengan berbagai keyword. Setelah membandingkan harga dan segala macem fasilitas yang ada di kapal, akhirnya kita perlu membuat satu keputusan penting: apakah mau pakai kapal yang AC atau non-AC? Kebayang kan panasnya Flores dan lengketnya udara malam di laut? Yang AC jelas lebih nyaman, tapi tentu harganya akan lebih mahal dibanding kapal yang non-AC.

Riset kita lanjutkan dan akhirnya kita dapat informasi kalau semua kapal yang memakai AC pasti menggunakan genset untuk sumber listriknya. Artinya, pas malam hari, pasti suaranya berisik banget. Dan ternyata, bahkan untuk yang non-AC pun ada kapal yang juga menggunakan genset untuk menghidupkan listrik di malam hari yang cuma untuk penerangan dan daya kecil buat ngecharge HP, kamera, dan semacamnya.

Riset dilanjutkan dan kita ketemu beberapa kapal yang sumber listriknya dari solar panel. Jadi selama siang hari, si solar panel ini akan menyerap panas matahari buat dikonversi jadi listrik yang ditampung di baterai khusus gitu. Dan, yak, betul, karena kapal-kapal ini menggunakan solar panel, malam hari kita bakalan terbebas dari suara berisik yang super ganggu, hehe.

Dari blog ini, kita mendapatkan kontak salah satu pemilik kapal di Labuan Bajo. Namanya Makdura Ulumando, biasa dipanggil Pak Mak. Orangnya masih muda banget, gaul, dan ramah abis. Dia mulai membawa tamu sejak 2003, jadi kurang lebih udah lebih dari 12 tahun.

Pak Mak punya 3 kapal, semua non-AC; yang membedakan hanya kapasitas maksimal yang bisa ditampung oleh 1 kapal. Karena kemarin gue traveling berempat ke Labuan Bajo, jadi bisa pake kapal yang paling kecil. Harganya 9 juta aja net untuk 4 hari 3 malem (4D3N). Ini udah termasuk makan lho ya selama LOB, tetapi belum termasuk tiket masuk ke Taman Nasional Komodo (Rp. 60,000 per orang per hari) dan sewa kapal kecil untuk ke Pink Beach karena pantainya cukup dangkal dan kapal Pak Mak gak bisa merapat (Rp. 20,000 per orang bolak balik). Kita putuskan untuk menyewa kapalnya dan langsung menghubungi dia untuk booking dan transfer DP 20% dari harga sewa kapal, kurang lebih sekitar 3 bulan sebelum perjalanan.

IMG_5583
Penampakan kapal Pak Mak yang kita sewa untuk LOB

Gue akan bahas satu per satu fasilitas yang ada di kapal Pak Mak.

Kamar Tidur

Di kapal yang gue pake kemaren, total ada 3 kamar di atas kapal ini. Ada 2 kamar yang ranjangnya bunk bed buat 4 orang per kamar dan 1 kamar yang cuma bisa muat 2 orang. Jadi total kapasitas maksimal dari kapal ini ada 10 orang. Idealnya sih buat 5-6 orang karena kasurnya lumayan pas-pasan kalo untuk dishare 2 orang.

Ukuran kamarnya lumayan kecil, jadi kalo bawa banyak koper, bakalan terbatas banget ruang gerak kita. Di masing-masing kamar ada kipas angin dinding dan lampu kecil untuk penerangan. Gak perlu khawatir bakalan susah ngecharge HP atau kamera karena masing-masing kamar dilengkapi 4 lubang colokan.

Pak Mak dan kru kapalnya juga berusaha sebaik mungkin untuk menyiapkan kamar kita sebersih dan serapi mungkin ketika kita pertama kali naik ke kapal. Mereka menyediakan handuk bersih yang bisa kita pakai untuk mandi atau bilas setelah snorkeling. Di ranjang juga disediakan selimut barangkali kita kedinginan ketika malam.

Kalo ditanya panas atau gak di dalem kamar, jawabannya tergantung. Pas siang emang berasa panas dan pengap banget di dalam kamar, tetapi ketika udah malem dengan kondisi kipas hidup, badan seger abis mandi ditambah capek setelah seharian snorkeling dan trekking, sampe kasur biasanya kita langsung tidur pulas, hehe.

Berikut penampakan kamar tidur di kapal yang kita sewa:

 

Kamar Mandi

Di kapal Pak Mak ini, ada 2 kamar mandi: satu khusus untuk mandi dan satu lagi sebetulnya untuk toilet tetapi juga bisa digunakan sebagai kamar mandi cadangan. Jangan salah, kamar mandi di kapal Pak Mak ini juga pakai shower dan jetpump lho. Kekurangannya cuma satu: airnya gak begitu deras jadi lumayan geregetan ketika mandi. Bisa jadi mengingat air bersih yang dibawa memang terbatas jadi harus hemat-hemat ketika mandi.

Untuk kloset, Pak Mak juga menggunakan kloset duduk, jadi lumayan keren untuk kapal kayu sederhana buat LOB.

Pendeknya, kamar mandi dan toiletnya cukup bersih.

 

Dapur dan Ruang Makan

Salah satu fasilitas yang paling gue suka dari kapal Pak Mak adalah ruang makannya. Kebetulan di kapal yang kita sewa, ruang makannya ada di bagian depan kapal, persis di depan ruang kemudi. Jadi, sambil ngobrol-ngobrol sama temen, bisa sambil nanya ini itu dan ngobrol sama Pak Mak-nya langsung.

Waktu kita pertama kali naik ke kapal, di atas meja makan udah lengkap berbagai macam snack dan minuman kayak teh, kopi, atau susu. Pak Mak juga udah menyiapkan cooler box sederhana untuk naro air mineral dan termos air panas untuk nyeduh popmie dan bikin kopi atau teh.

Kita gak ke dapur sama sekali, cuma lewat-lewat doang, karena semua makanan udah disiapkan oleh 2 orang kru kapal Pak Mak, namanya Bang Yohanes dan Bang Said. Kita sampe terharu banget setiap kali makanan dateng, karena untuk makan di atas kapal LOB sesederhana itu, bisa dibilang makanan dan snack yang disajikan berkualitas bintang lima dari usaha mereka menyajikan dan rasanya. Bayangin aja, setiap kali makan, kurang lebih 5-6 macam lauk dan sayur selalu ada di atas meja. Dan semuanya dimasak fresh di atas kapal, pakai bahan-bahan yang segar, bukan frozen food. Belum lagi ditambah buah-buahan buat pencuci mulut. Di rumah aja gak selengkap itu, haha!

DSC02270
Makan siang kami di ruang makan dengan pemandangan cantik khas Labuan Bajo

Dek Kapal

Di kapal ini, juga ada tangga menuju ke atas dek kapal. Dari atas dek kapal ini, kita bisa duduk santai-santai pas pagi hari. Kita kadang-kadang juga pake dek kapal ini buat ngejemur baju, hehe. Nah, di atas dek kapal ini Pak Mak akan tidur ketika kapal udah berhenti dan kita harus bermalam.

IMG_5503
Menikmati sunrise Labuan Bajo dari atas dek kapal

***

Nah, selain fasilitas-fasilitas kapal yang oke banget untuk ukuran LOB di kapal kayu, Pak Mak juga banyak banget membantu trip kita jadi lebih menyenangkan. Dia punya kamera SLR dan jago ngambil angle yang oke punya, jadi gak usah takut bakal kekurangan dokumentasi buat diupload ke social media. :p Pak Mak juga tau kapan jam-jam ramai di tempat-tempat tertentu dan dia selalu mengusahakan agar kita bisa ke tempat itu sebelum atau sesudah jam ramai supaya bisa puas menikmati

Yang lebih kerennya lagi, karena Pak Mak udah berpengalaman banget mengarungi Laut Flores, dia mengajak kita ke beberapa tempat yang belum pernah dieksplor oleh siapapun. Tempat ini juga dia yang menemukan sendiri hasil iseng-iseng dia ketika mengantar tamu. Bisa dikroscek di google atau Instagram kalau belum ada yang pernah foto di tempat ini. Beberapa tempat ini pun akhirnya dia yang kasih nama, dan pada akhirnya kapal-kapal lain mengikuti kapal Pak Mak untuk ke tempat-tempat yang baru aja dia temukan.

Walhasil, kalo menyewa kapal Pak Mak, gak akan ada itinerary yang sifatnya pasti seperti kalo kita traveling dengan menggunakan travel agent atau ikut open trip. Kita bisa request kalau mau skip tempat tertentu atau mau mengunjungi tempat baru dan Pak Mak bakal nyesuain perjalanan dengan request kita itu. Kita sendiri akhirnya setuju untuk mengikuti itinerary yang diatur oleh Pak Mak karena kita yakin dia yang paling ngerti harus bawa tamu ke mana dan kapan waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat itu.

Di trip ini, Pak Mak juga menyiapkan kejutan kecil buat kita semua. Dia memberikan kain asli dari Flores sebagai kenang-kenangan karena udah memercayakan trip ke Labuan Bajo kali ini dengan menggunakan jasa dan kapal milik dia. Kita berempat puas banget dengan pelayanan tulus dan fasilitas yang ada di kapal Pak Mak yang seperti gak pernah capek ngurusin kita ke sini situ dan terus-terusan minta difotoin haha. Kalo mesti ngasih nilai, gue pribadi ngasih nilai 10 dari 10! 🙂

Gue betul-betul menyarankan kalian yang mau traveling ke Labuan Bajo untuk menggunakan jasa dan menyewa kapal Pak Mak karena gue yakin kalian juga akan puas dengan pelayanan dia dan timnya. Yang mau menghubungi Pak Mak, dia bisa dikontak di 0821-4570-4054 lewat telepon ataupun WA. Sabar-sabar aja ya kalo misalkan dia ditelepon gak angkat atau misalkan hapenya gak aktif karena bisa jadi dia lagi berlayar dan memang gak ada sinyal.

IMG_1947
Pak Mak, si Pemilik Kapal

Foto-foto keren dari perjalanan Pak Mak mengajak tamu berkeliling di Laut Flores juga bisa diliat di akun Instagramnya: @komodoalor.

Buat yang mau tau itinerary detail dan review tempat yang kita kunjungi dari perjalanan kita berempat, tungguin post berikutnya ya.

Cheers!

 

 

 

Berpetualang ke Pangandaran di Selatan Jawa

Entah siapa yang pertama kali mencetuskan, akhirnya muncullah ide untuk pergi ke Pangandaran. Gue sendiri juga belum pernah ke sana. Pangandaran ada di ujung Selatan Jawa, masih masuk provinsi Jawa Barat, tetapi ngesot dikit udah sampai Jawa Tengah.

Gue pikir Pangandaran gak begitu jauh dari Jakarta, ya kurang lebih samalah kalo mau ke Bandar Lampung naik mobil. Sayangnya, gue salah. Walaupun terkesan deket karena masih masuk bagian Jawa Barat (maklum anak Jakarta biasanya maennya ke Bandung sama Bekasi doang, jadi mikirnya Jawa Barat sepelemparan batu doang), tapi Pangandaran jauh bener cuy. Gue ulangi: jauh beneeeer.

Butuh waktu 9-10 jam perjalanan darat buat sampai ke sana. Parahnya lagi, waktu itu bertepatan dengan long weekend, jadinya jalanan memang sangat padat. Mana kita pake acara nyasar lagi: masuk hutan yang jalannya ancur. Belum sampai Pangandaran aja udah meninggalkan kesan mendalam.

***

Pangandaran ini rupanya daerah pariwisata dan sentra makanan laut yang sangat populer. Tau Bu Susi dong, menteri Perikanan dan Kelautan kita? Cikal bakal Susi Air itu ya buat ngangkut udang dari Pangandaran ke daerah lain dengan cepat, supaya udangnya gak rusak. Untuk pariwisatanya sendiri, gue menangkap Pangandaran ada beberapa tingkat di atas pantai-pantai serupa, sebut saja Anyer (tentunya nama sebenarnya) karena udah banyak resort ala hotel bintang lima yang dibangun di sini, dan komplek penginapannya pun sebelas dua belas lah sama Kuta (cuma kurang bule Australia aja).

Berhubung udah pada kelaperan, tempat pertama yang kita kunjungi adalah restoran. Tanpa banyak babibu, kita langsung ke pasar ikan dan makan seafood super seger di sana. Lo harus pinter milih untuk dapetin ikan dan makanan laut lain yang berkualitas oke. Milihnya aja udah jadi pengalaman sendiri sih. Soal harga, tentunya jauh lebih murah dibanding makan seafood di Jakarta, apalagi karena kita dateng dengan rombongan yang cukup rame. Supaya ngiler, coba liat foto-foto di bawah.

Jadi laper lagi....
Jadi laper lagi….
Perut boleh laper, tapi foto harus tetep inget
Perut boleh laper, tapi foto harus tetep inget

Selesai makan, kita kembali ke hotel dan siap-siap untuk berburu sunrise keesokan subuhnya.

***

Jam 5.15 pagi kita udah bangun dan bersiap menuju pantai Timur untuk berburu sunrise. Namun, apa lacur (aih sedap bahasanya lawas bener) sunrise-nya tertutup awan. Lumayan banyak orang yang juga udah stand by sepagi itu di pantai yang kita datengin. Gagal mendapatkan sunrise, kita sepakat untuk kembali ke hotel, sarapan, dan bersiap melanjutkan petualangan.

Pantai Barat yang mendung dan tanpa sunrise
Pantai Barat yang mendung dan tanpa sunrise

Awalnya, di hari kedua ini rencana kita adalah untuk langsung body rafting di Green Canyon yang terkenal itu. Tapi, lagi-lagi karena long weekend, basecamp untuk pendaftaran rafting ini udah rame dengan bus dan kendaraan lainnya. Kabarnya, mereka ini udah booking dari jauh-jauh hari dengan ikutan paket tur gitu. Kita masih mengusahakan untuk bisa rafting hari itu mengingat besoknya kita udah kembali ke Jakarta. Sayangnya, tetep gak bisa karena memang udah terlalu ramai dan bisa antri berjam-jam hanya untuk diangkut ke titik awal rafting.

Rencana langsung kita ganti: main ke pantai dan keliling pulau. Pertama-tama, kita ke Pantai Batu Karas. Pantainya sendiri lumayan rame, tapi pasirnya hitam dan kurang bersih. Ya kurang lebih mirip pantai di Anyer pada umumnya. Akhirnya kita cuma lihat-lihat aja sambil nungguin salah satu temen kita mainan ombak sendirian.

Dari Batu Karas, kita menuju ke Batu Hiu. Gue sendiri gak tau ini kenapa dinamakan Batu Hiu. Nah, pantai Batu Hiu ini lebih cantik dibanding Batu Karas karena pasirnya yang harus dan garis pantai yang panjang namun lurus. Ombaknya besar banget, jadi sepertinya memang bukan untuk berenang. Yang kita lakukan di pantai ini tak lain dan tak bukan adalah foto. Karena pantainya yang sepi dan background yang lumayan keren, kita bahkan sempet nyoba ngambil foto levitasi beberapa kali.

Dari Batu Hiu kita kembali ke Pantai Timur di mana kita mencoba nyari sunset. Berhubung gagal main rafting hari itu, akhirnya kita memutuskan untuk sewa kapal dan keliling pulau aja, sembari snorkeling di pinggir pulau itu. Pulaunya biasa banget, gak ada yang istimewa, banyak yang isinya goa-goa yang dipercaya lumayan angker. Waktu snorkeling juga kurang mengesankan karena visibility yang jelek dan terumbu karang yang kurang jelas keberadaannya.

Kita putuskan untuk kembali ke Pantai Timur dan beristirahat di hotel untuk simpan tenaga buat rafting keesokan harinya. Nah, waktu kita lagi perjalanan pulang ini ada sesuatu yang sedikit “mistis”. Gak tau dari mana asalnya, tiba-tiba kita semua mencium bau melati yang sangat tajam. Usut punya usut, dari abang kapal yang membawa kita, kalo mencium bau melati seharusnya diem aja karena memang itu ada hubungannya dengan Nyi Roro Kidul.

***

Okelah, selesai mistis-mistisannya. Hari terakhir di Pangandaran kita gunakan untuk body rafting yang tertunda. Gak mau mengulang kesalahan yang sama, kita dateng jauh lebih pagi dibanding hari sebelumnya. Kelompok kita dapet urutan kedua untuk dibawa ke titik awal. Kita semua dibawa pakai pick-up dan diajak off-road naik gunung sekitar 15 menit dengan jarak tempuh sekitar 3 KM. Tentunya, amunisi udah siap, mulai dari perlengkapan keamanan seperti helm dan life vest, sampai ke perlengkapan untuk eksis, yakni GoPro.

Saat "diangkut" menuju titik awal rafting
Saat “diangkut” menuju titik awal rafting

Sayangnya, saat kita rafting ini, air sungainya gak lagi berwarna hijau, tetapi keruh menjadi agak kekuningan. Gak jelas apa yang bisa menyebabkan air sungainya berubah-ubah warna seperti itu, tapi salah satu hipotesisnya adalah karena kiriman air hujan di tempat yang lebih tinggi. Sungai Green Canyon atau Cukang Taneuh dalam bahasa lokal ini sebetulnya sangat panjang, tetapi yang kita pakai untuk rafting hanya sepanjang kurang lebih 3 KM saja.

Ketika rafting, kita dipandu oleh dua orang guide yang merupakan anggota karang taruna sekitar. Mereka tergabung ke dalam kelompok guide tersebut sebagai salah satu bentuk nyata pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata di daerah setempat. Dua orang guide yang menemani kami juga lumayan kocak, alhasil lumayan seru dan gak bosen ketika rafting.

Kita mulai rafting dengan loncat dari bebatuan yang lumayan tinggi, kurang lebih sekitar 2 meter. Kita sebetulnya diberikan pilihan untuk lompat atau masuk ke air lewat bebatuan yang lebih rendah. Tertantang nyobain lompat demi memuaskan adrenalin, gue putuskan buat lompat dan sumpah, SERU ABIS!

Ada beberapa bagian ketika rafting di mana guide hati-hati banget ngejagain kita. Mungkin mereka tau mana bagian-bagian yang lumayan bahaya dan berisiko sehingga kelihatan banget kalau mereka betul-betul memastikan keselamatan kita.

Yang menarik dari rafting ini adalah satu tempat menjelang akhir rafting, di mana kita bisa ngerasain hujan abadi. Hujan abadi ini berasal dari air serapan tanah yang terus-terusan menetes tanpa henti, bahkan di musim kemarau pun ketika gak ada hujan sama sekali. Suasanyanya bener-bener magis dan susah banget digambarkan. Ini bagian favorit gue.

Terakhir, sebelum kita menyudahi rafting, kita melewati satu spot terkenal juga di Green Canyon, yang dinamakan Tebing Payung. Namanya seperti ini memang karena bentuknya yang menyerupai payung, atau semacam jamur. Di sini, kita bisa mengantri untuk melompat dari batu yang sangat tinggi, kabarnya ketinggiannya mencapai 7 meter. Berhubung kita semua udah pada capek, dan juga agak ngeri sebetulnya, gak ada yang mau nyobain lompat dari sini.

Sesudah itu, kita akhirnya dibawa ke pos terakhir di mana kita bisa jajan gorengan dan minuman. Gak usah khawatir gak bawa uang, karena kita bisa bayar ketika udah sampai di basecamp semula.

Menjelang rafting
Menjelang rafting
Saat rafting
Saat rafting
Istirahat sebentar
Istirahat sebentar
The Magical Green Canyon
The Magical Green Canyon
GORENGAAAN!
GORENGAAAN!

***

Pangandaran memang jauh banget, tetapi pengalaman pertama ke sana lumayan berkesan bagi gue. Ada beberapa hal baru yang pertama kali gue cobain. Body rafting salah satunya. Menurut gue, lo harus cobain ini kalo lo ke Pangandaran. Meskipun lo agak sedikit takut, tapi tenang aja, selama lo ikutin petunjuk dari guidenya, keselamatan pasti akan terjamin. Petualangan ke Selatan Jawa kali ini bolehlah diacungi jempol!

Membeli Tiket Kereta secara Online

Dunia perkeretaapian Indonesia punya sejarah panjang. Tapi, kalo ditanya kapan terakhir kali gue naik kereta api, gue bingung jawabnya karena cuma pernah naik KRL Jabodetabek, itu pun juga udah lumayan lama.

Hari ini, gue dapet kesempatan untuk nyobain naik the so-called “kereta api” (karena sekarang kayaknya udah gak pake pembakaran batu bara lagi). Gue akan ke Indramayu!

Gue pikir proses pembelian tiketnya akan cukup rumit. Ternyata gue bener dan salah. Bener karena memang lebih rumit dibanding beli tiket pesawat, tapi ternyata gak serumit yang gue bayangin. Semua bisa dilakukan secara online dan ini menghapus pikiran gue kalo mau beli tiket kereta harus berdesak-desakan di loket stasiun. Ada beberapa situs yang bisa kita pake untuk beli tiket kereta ini, baik langsung dari situs KAI, atau situs perantara seperti tiket.com atau tiketkai.com. You choose!

Proses pemesanannya juga gampang. Cukup masukin semua informasi diri yang diminta dengan jadwal kereta yang mau dibeli, kemudian setelah semuanya selesai, kita akan diemail kode pembayarannya. Pembayaran bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti transfer via ATM, kartu kredit, ataupun Paypal.

Setelah melakukan pembayaran, kita akan dapet kode booking tiket. Kode ini harus disimpen karena nanti akan dipake untuk redeem tiket fisiknya di stasiun. Kerennya lagi, untuk redeem tiket tersebut, udah ada mesin self service-nya. Kita cukup masukkin kode dan cek apakah informasinya sesuai, lalu bisa langsung diprint deh. Ini gambar mesin CTM (Cetak Tiket Mandiri) itu.

 
Pengalaman baru ini ngingetin gue sama pengalaman travelling dengan kereta dulu waktu sekolah di Inggris. Bangga banget lah negara kita pelan-pelan mulai berbenah.